PERINGATAN ISRA MI'RAJ 26 RAJAB 1447H/ 15 JANUARI 2026M
/*: ISRA MI'RAJ 15 JANUARI 2026m/26 RAJAB 1447H
Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling agung dan bersejarah dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi bukti kebesaran Allah SWT sekaligus menunjukkan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik yang luar biasa, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh hikmah dan pelajaran bagi seluruh umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada malam hari dan hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW atas kehendak Allah SWT.
Secara bahasa, Isra berarti perjalanan pada malam hari, sedangkan Mikraj berarti naik atau tangga menuju tempat yang lebih tinggi. Isra Mikraj berarti perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi dalam satu malam, suatu hal yang mustahil secara logika manusia, tetapi sangat mungkin bagi Allah SWT yang Maha Kuasa.
Isra Mikraj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Saat itu, beliau baru saja kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, yaitu istri tercinta Khadijah binti Khuwailid dan paman yang selalu melindunginya, Abu Thalib. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Aamul Huzni atau tahun kesedihan. Selain itu, penolakan dan penindasan dari kaum Quraisy semakin keras. Dalam kondisi penuh kesedihan inilah Allah SWT menghibur dan menguatkan Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Mikraj.
Perjalanan Isra dimulai ketika Nabi Muhammad SAW berada di Masjidil Haram. Malaikat Jibril datang dan membelah dada Nabi Muhammad SAW, lalu membersihkannya dengan air zamzam sebagai persiapan spiritual. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke atas Buraq, hewan tunggangan yang sangat cepat, lebih cepat dari kilat. Dengan Buraq inilah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.
Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melaksanakan salat dua rakaat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan pemimpin seluruh umat manusia. Masjidil Aqsa juga menjadi bukti pentingnya tempat tersebut bagi umat Islam, karena merupakan salah satu masjid suci yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Setelah Isra, perjalanan dilanjutkan dengan Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit. Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril naik dari langit pertama hingga langit ketujuh. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu dengan para nabi. Di langit pertama bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa, dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.
Puncak perjalanan Mikraj adalah ketika Nabi Muhammad SAW sampai di Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk mana pun kecuali atas izin Allah SWT. Pada saat inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT, yaitu kewajiban salat lima waktu. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh kali sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW memohon keringanan kepada Allah SWT hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala tetap seperti lima puluh kali salat.
Salat menjadi hadiah terbesar dalam peristiwa Isra Mikraj. Salat merupakan tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan melalui malaikat, perintah salat diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat dalam kehidupan seorang muslim.
Peristiwa Isra Mikraj juga mengajarkan tentang keimanan kepada hal-hal gaib. Banyak kaum Quraisy yang menolak dan mengolok-olok Nabi Muhammad SAW ketika beliau menceritakan peristiwa ini. Namun, orang-orang yang beriman, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, langsung membenarkan tanpa ragu sedikit pun. Dari sinilah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang sangat membenarkan.
Hikmah dari peristiwa Isra Mikraj sangat banyak. Salah satunya adalah mengajarkan kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi cobaan. Nabi Muhammad SAW tetap teguh menjalankan dakwah meskipun menghadapi berbagai rintangan. Selain itu, Isra Mikraj mengajarkan bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang tepat bagi hamba-Nya yang bersabar dan bertakwa.
Isra Mikraj juga mengingatkan umat Islam untuk senantiasa menjaga salat lima waktu. Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan rohani yang menenangkan jiwa. Dengan salat, seorang muslim dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh kekuatan untuk menjalani kehidupan.